Ayah Askolani Nasution Ternyata Pahlawan Perintis Kemerdekaan

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on skype
Oplus_131074

Kotanopan, Mandailingpos – Kehadiran budayawan Mandailing Natal, Askolani Nasution, dalam penyerahan tali asih kepada keluarga pejuang perintis kemerdekaan di Kotanopan, beberapa hari lalu, menarik perhatian.

Askolani ternyata putra dari Ahmad Nasution, salah satu tokoh perintis kemerdekaan yang namanya tercantum di Tugu Perintis Kemerdekaan di depan Pasanggarahan Kotanopan. Nama Ahmad Nasution berada pada urutan ke-16 dari 25 nama pejuang yang tercatat di tugu tersebut.

Berdasarkan publikasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh berjudul “Perkenalkan, Saya Ahmad Nasution”, Ahmad Nasution merupakan salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan di Tanah Mandailing pada masa kolonial Belanda. Ia aktif dalam Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), organisasi politik berhaluan nasionalisme-Islam yang didirikan di Padang Panjang pada 1930.

Ahmad Nasution dipercaya memimpin PERMI Wilayah Mandailing. Aktivitas politiknya membuat ia ditangkap setelah PERMI dibubarkan pemerintah kolonial pada 1937. Ia sempat dipenjara di Sukamiskin, Bandung, sebelum kemudian dibuang ke Boven Digoel, Papua.

Selama berada di Boven Digoel, Ahmad Nasution menghadapi kondisi berat akibat kelaparan dan penyakit malaria. Ia juga hidup bersama sejumlah tokoh pergerakan nasional, di antaranya Bung Hatta, Bung Syahrir, dan Sayuti Melik.

BACA JUGA:  Abdul Malik, S. Pd Kembali Terpilih Menjadi Ketua PGRI Cabang Kotanopan

Setelah dibebaskan, Ahmad Nasution kembali ke Tanah Mandailing dan melanjutkan perjuangannya melalui jalur pendidikan dan politik. Setelah Indonesia merdeka, ia aktif di Partai Masyumi dan kemudian terlibat dalam gerakan PRRI.

Keterlibatannya berakhir dengan pemberian amnesti berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 322 Tahun 1961 tanggal 22 Juni 1961.
Ahmad Nasution lahir di Desa Botung pada 12 Mei 1912 dan wafat di Desa Sigalangan pada 25 Oktober 1968.

Di akhir hayatnya, ia dikenal sebagai guru sekolah Perhimpunan Muhammadiyah dan meninggalkan seorang istri serta enam anak.

Atas kiprahnya dalam perjuangan, Ahmad Nasution diangkat sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan berdasarkan surat Menteri Sosial Nani Sudarsono Nomor 3/1/1985/Anum tertanggal 2 Januari 1985.

Namanya kini diabadikan di Tugu Perintis Kemerdekaan Kotanopan sebagai salah satu penanda sejarah perjuangan masyarakat Mandailing dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kisah Ahmad Nasution menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat Mandailing. Perjalanannya dari PERMI, penjara Sukamiskin hingga pembuangan ke Boven Digoel menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan juga tumbuh dari daerah-daerah di luar pusat kekuasaan kolonial.

BACA JUGA:  RSUD Panyabungan Ditargetkan Jadi Rumah Sakit Rujukan di Tabagsel

Berdasarkan data yang tersedia, terdapat 25 nama Pahlawan Perintis Kemerdekaan di Kecamatan Kotanopan. Nama-nama tersebut antara lain H.M. Ali Hanafiyah Lubis (H. Mahal Lubis), Yahya Malik Nasution, Tinggi Lubis, Makmur Lubis, H. Ayub Suleman Lubis, Abdul Aziz Lubis, Abd. Rahman Parinduri, H. Adam Malik Batubara, Abdul Hamid Lubis, Buyung Siregar, Muhiddin Nasution, Abu Kosim Daulay, Ilyas El Yusuf, H.M. Yunan Nasution, Muslim Arif Lubis, Ahmad Nasution, Abdul Gani Nasution, H. Marahsudin Chatib Hasibuan, Mangaraja Ihutan Lubis, Mangaraja Sayuti Lubis, Anwar Nasution, Adnan Nur Lubis, M. Phaid Matondang, Ayub Lubis dan KH. Ahmad Nasution.

Reporter: Lokot Husda Lubis

BERITA TERKINI

error: Content is protected !!