Kotanopan, Mandailingpos — Sebanyak 150-an warga lintas generasi memadati Lapangan Gordang, Desa Gading Bain, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Minggu (9/8/2026) malam.
Mereka hadir menyaksikan pemutaran perdana film dokumenter berjudul Sang Penjaga Bunyi Leluhur: Dokumentasi Maestro Jasinaloan dan Gordang Sambilan.
Pemutaran film berlangsung dalam suasana khidmat dan kental dengan nuansa tradisional. Warga menyaksikan film dengan duduk di atas bide, tikar anyaman rotan khas masyarakat setempat, sambil dikelilingi obor dan janur.
Film dokumenter tersebut diproduksi Yayasan Bina Budaya Mandailing Raptama dengan dukungan Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI. Film mengangkat sosok maestro Gordang Sambilan, Drs. Mhd. Bakhsan Parinduri atau yang dikenal dengan nama Jasinaloan.
Dokumenter tersebut merekam dan mengulas pengetahuan tradisi Gordang Sambilan, tidak hanya dari aspek musikalitas, tetapi juga organologi, adab dalam tradisi, nilai filosofis, serta fungsi sosial Gordang Sambilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Jasinaloan menekankan pentingnya regenerasi dan keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Mandailing.
“Pelestarian Gordang Sambilan ini harus terus berlanjut. Saya mengajak generasi muda Mandailing untuk menjaga dan melestarikan Gordang Sambilan serta kesenian Mandailing lainnya,” ujar Jasinaloan.
Hal senada disampaikan Pimpinan Produksi sekaligus Produser film, Choiri Alwi. Menurutnya, pendokumentasian kebudayaan harus dilakukan dengan merujuk pada sumber primer agar pengetahuan tradisi dapat terselamatkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pendokumentasian ini penting untuk merekonstruksi khazanah musik Mandailing langsung dari maestronya. Pak Bakhsan adalah guru saya, sehingga kekayaan pengetahuannya harus diarsipkan secara terstruktur demi pewarisan kepada generasi berikutnya,” kata Choiri.

Ia menambahkan, dokumentasi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki sekaligus semangat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melestarikan tradisi Mandailing, termasuk Gordang Sambilan.
Choiri juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang hadir dan mendukung kegiatan tersebut, khususnya warga Desa Gading Bain dan Desa Tombang Bustak.
Kegiatan ditutup dengan penampilan Gordang Sambilan oleh warga setempat. Selanjutnya, Tim Produksi Yayasan Bina Budaya Mandailing Raptama berencana memperluas penayangan film Sang Penjaga Bunyi Leluhur di lingkungan akademis, termasuk di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.
Reporter : Lokot Husda Lubis



















